Selasa, 18 Desember 2012

Kisah Seorang Ibu Membeli Sapi Berhadiah Tali


Kisah Nyata
Seorang Ibu yang usianya sudah tidak muda lagi hidup di sebuah rumah bersama Putra Tunggalnya. Beliau menjalani kehidupan dengan penuh sukacita. Meskipun kehidupan tidak tampak mewah, namun kebahagian tidak pernah lepas darinya. Keikhlasan menjalani hidup tampak berseri dalam rautan wajah ibu tersebut. Tidak ada keluhan, kekecewaan maupun kesedihan atas apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Rasa syukur selalu terlintas pada ucapan dan perbuatan atas segalanya yang Tuhan Berikan.
Sebidang lahan sawah merupakan penghasilan utamanya. Itupun beliau berikan kesempatan kepada tetangga untuk mengolah lahannya dan hasilnya akan dibagi dengan beliau. Setiap hari rutinitas yang dijalankan yaitu berKhidmat. Mengajarkan sesuatu yang bermanfaat kepada calon-calon penerus bangsa pada lingkungan sekitar.
Karena hampir kurang lebih 25 Tahun dengan sekelumit ilmu membaca Ayat suci Al-Qur’an beliau ajarkan kepada anak-anak yang hidup disekitar rumahnya. Tanpa ada harapan imbalan, maupun tanpa ada yang membayar, Beliau tetap semangat menjadi seseorang yang ingin mendapatkan Ridho Alloh SWT. Ingin menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama dengan kemampuan yang beliau miliki. Karena Bagi beliau, seorang anak yang mau belajar sudah cukup luar biasa. Selain itu, hal tersebut membuat senyuman bahagia yang selalu menemani beliau dalam kesehariannya.
Teringat dengan kata mutiara dari seorang Guru,
“Nek Tuku Sapi, Pasti Katutan Tali,,Nek tuku Tali, Ga bakalan katutan Sapi”. (Jika beli Sapi pasti mendapatkan Tali Pengikatnya, Namun jika beli Tali Pengikatnya ndak Mungkin dapat Sapinya).

“Nandur Pari, Pasti cukul suket,,,tapi Nandur Suket Ga Bakalan Cukul Pari”. (Menanam Padi, Pasti rumput juga akan ikut tumbuh, namun kalau menanam Rumput, Ga bakalan tumbuh Padi)
Dalam artian,
“Jika mendahulukan Urusan Akhirat, Insya Alloh Dunia akan mengikuti….Jika Mendahulukan urusan Duniawi, maka Akhirat akan tertinggal”.
Begitulah sepertinya yang beliau pegang dalam kehidupannya. Beliau menjadikannya komando untuk berjalan menuju keRidhoan Alloh SWT.
Bukan omong kosong dan bukan berharap yang demikian, tapi Tuhan telah Membuktikan seperti apa yang telah disampaikan oleh Bapak Guru. Kehidupan Beliau tercukupi, bahkan sering saya sebagai penulis menyaksikan bahwa ketika sesuatu kebutuhan Pangan yang beliau tidak punya dan Butuh, maka tidak lama kemudian ada yang memberi. Subhanalloh…sesuatu rizki yang tidak disangka-sangka datang sendiri dan dari jalan yang bahkan tidak dapat dilogikakan dengan akal pikiran. Hingga sampai saat ini, yang namanya kebutuhan pangan(Sembako) seperti minyak goreng, gula, beras dan lain-lain tidak PERNAH membeli Alhamdulillah tercukupi. Dan masih banyak lagi kisah tentang Gaji Akhirat beliau yang tidak dapat saya tulis semuanya disini. Saya sebagai penulis banyak tahu tentang beliau karena “Beliau adalah IbuKu”.
Kawanku yang budiman, tidak ada maksud tertentu dalam hal ini. Sebuah kisah nyata yang dapat kita ambil pelajaran bahwa, “Mari bergerak dan berkontribusi dalam mencari Ridho Alloh dalam berbagai kegiatan sesuai dengan kemampuan masing-masing”. Mendahulukan urusan akhirat dengan mendakwakan Agama. Insya Alloh segala kebutuhan kita akan tercukupi….
Mudah-mudahan bermanfaat….!!!!

Please follow me...!!!!